Tak Begitu

Tak begitu banyaknya, biarlah

Kita tak begitu serakah

dan tak menuntut lebih

Tak begitu mewahnya, biarlah

Kita tak begitu perlu

dan tak dibutakan

 

Bincang dan Canda cukup jadikan kita kaya

Sejatinya, kita tak pernah membunuh anak kecil pada diri kita

Yang cukup jadikan tawa jadi beras

Yang cukup jadikan senja jadi barcelona

Yang cukup jadikan debu jadi berlian

Yang cukup dan tak begitu

dan Tak perlu ditetapikan

-richardapatis

 

 

Advertisements

Label

Manusianya berjejer rapi dan berkoar buas

Membanjiri lambah yang penuh takwa

Membutakan langit yang penuh kebebasan

tak lagi-lagi kau rajam dirimu dengan atribut

semakin mati rasa kau dibuatnya

Kau kumandangkan kebebasan dengan lantangnya

dengan benang-benang boneka dipundakmu

dengan sinar yang membutakan arahmu

dengan bayang yang memalsukan langkahmu

Semuanya tak lagi-lagi sama

dan tak lagi-lagi benar

Kita hanyalah label

Yang penuh bangga tak beraturan.

Semerdeka-merdekanya dirimu,

belum murni artinya jika kau labeli dengan atribut dan warna

-richardapatis

 

Puzzle

Pada kitab kejadian

Hari 1 hingga ke-7

Semuanya diciptakan dari mikro hingga makro

dari tiada ke ada

Dari yang nalar jangkau hingga tak terjangkau

dan engkau terselip di antara kejadian itu

Semuanya begitu abu dan membingungkan

Tentang hujan yang turun dari matamu

Tentang matahari yang terbenam di keningmu

Tentang senja yang berlabuh di kulitmu

Tentang semesta yang bersembunyi di pundakmu

-richardapatis

 

Skeptis (Feels)

 

Lihat sejoli itu, bahagia bukan main

Merangkai kata dan memahat nama mereka di pohon

Cih, roman picisan

Sebenarnya ini hanya masalah alur waktu

Seperti novel, kau bebas ciptakan alur dan tema

Serta kondisi dan prahara

Karena kita bahagia dan seterusnya

kita mampu berucap ini-itu

Karena kita merasa seperti ditakdirkan

Seolah Tuhan tidak bermain dadu pada langkah kita

Aku skeptis pada perasaan dan antek-anteknya

Bahagia dilahirkan perasaan

Atau dilahirkan oleh dopamine belaka?

Perasaan, tak lebih adalah tempat berlindung manusia yang tak tahu harus berbuat apa

Perasaan sekiranya menutup sebelah mata kita, meredam suara, dan mengikat pita suara

Perasaan membungkam

dengan kecup

dengan bisik

dengan peluk

Kita, manusia dan yang lainnya berlindung pada perasaan

tak lebih dan tak kurang!

Aku skeptis pada perasaan

-richardapatis

Mata dan Fisika

Pupilmu melahap habis gelap-gelap yang ada padaku

Lebih pekat dari kopi

Lebih gelap dari malam

dan sesunyi angka konsonan

iris -mu lah mewarnai monokrom jiwaku

Yang dulu tak beraturan kini rapi dalam tumpukan

Yang dulu bergerak lurus beraturan kini menari lincah pada dawai-dawai

tak seindah pelangi, namun tak banyak tetapi

Dan aku berlindung pada mata-mu

tenggelam padanya dan melawan archimedes

Tatap kita saling menarik tanpa medium

Sepertinya benar, gravitasi sudah tak berlaku

-richardapatis

 

 

Sebuah Keberadaan

Di dimensi waktu manakah engkau tertinggal?

Atau mungkin engkau terselip di antara buku-buku tua itu

di halaman-halaman yang telah berdebu mungkin

mungkin juga engkau ter-urai di embun pagi yang menetes dari atap tua itu

Mungkin juga aku lah yang enggan mencarimu sepenuh hati

Atau dirimu kah yang enggan untuk ditemukan?

Baiklah, Kala nanti engkau hendak mencariku.

Rabalah aku di baris baris puisi yang biasa ku buat 

Atau di sela sela doa malammu yang kadang kusyuk 

Mungkin memang sebuah keberadaan yang kita ingini masih jauh di sana 

Perlu waktu untuk ke sana

Juga tangis dan tawa

tapi ayo lekas!

-richardapatis

Jarak dan Waktu

Malam telah berlalu dan yang dingin telah luluh

Segala bentuk rindu sudah dianulir

“Jarak adalah sebagian dari perasaan” imbuhnya

“Waktu adalah keterbatasan perasaan” terangnya

Bila begitu, sudah selayaknya kita sisakan jarak di antara bibir

Bila begitu, sudah selayaknya kita luangkan waktu untuk sendiri menikmati sunyi

Kita sisakan dingin malam ini

Yang kelak akan kita habiskan di pesisir pantai

dan sejenak artikan malam-malam tanpamu atau tanpaku

Kita sisakan jarak-jarak dalam kantong kita masing-masing

Yang kelak kita tebar di ujung-ujung jurang itu

dan sejenak artikan tatapan tanpa pertemuan

Jarak dan Waktu adalah sebagian dari perasaan yang  kita lupakan

-richardapatis

 

 

 

 

Warung Kopi

Aku ingin kita ke warung kopi

meneguk kafein sebanyak-banyaknya dan tidak pernah terlelap untuk waktu yang lama

Aku ingin kita teguk kopi 

Pahitnya kita tolerir

Getirnya kita pahami

Hidup tak berbeda jauh dengan warung kopi

Pahitnya kita pelajari

Getirnya kita sudahi

Mari kita ke warung kopi

dan jadikan engkau kanopi

Mari kita ke warung kopi 

dan nyalakan yang padam jadi api

Sebenarnya aku hanya ingin minum kopi

Untuk hari yang tak lagi kita ratapi

-richardapatis

Kamar 3X4

Pagi ini, sebelum sang surya bangun dari tahtanya

Aku sudah terjaga, menunggu pagi

Menunggu matamu yang sayu tuk segera terjaga

Berharap semua kan tertata rapi seperti   biasanya

Layaknya buku-buku yang tersusun rapi di sudut kamarmu

Semuanya begitu pasti, layaknya ayat-ayat yang kita bacakan

Kita beranjak dari kasur masing-masing

Menyisakan begitu banyak pikir pada kening dan sedu pada bantal

Selimut ini tak cukup jadi hangat diantara dingin yang kita ciptakan

Semuanya pudar dalam bisu kita masing-masing

Kamar ini adalah kapal tanpa nahkoda

menyusuri lautan hening tiada gema

-richardapatis

Manusia Hujan

Hujan ceritakan aku tentang kesalmu

Pada Gunung atau lautan yang menelantarkanmu

Dan dari genangan dan rintikmu biar aku bermelankolis

Pada sajak ini biar berlapis mendung

dan pada bait-baitnya biar ku bercerita

Tentang rasa yang manusia jabar-jabarkan begitu rumit

Tentang rasa yang manusia agung-agungkan begitu salahnya

Tentang rasa yang manusia tangisi begitu polosnya

Begitu berlebih hingga perasaan tak lebih dari panggung sandiwara

-richardapatis