Day 5 – Kepulangan

Dadaku biru, membiru bulat dan menghantu sesat

Pikirku kosong, sekosong kata dan sehampa rongga

Kau berjanji kepulangan kan selalu bahagia dan penuh rindu di sudut-sudut kota ini

Tapi mereka kosong dan hanya janji belaka

Penuh investasi namun minim fraksi

Penuh warna namun minim rasa

Lagu tigapagi berdengung di setiap kesunyianku

Aku tersesat di jalan yang kugemari

Aku tersesat di rindu yang selalu ku kenang

-richardapatis

 

Advertisements

Satuan Waktu

Waktu kita berbeda

Detak kita tak begitu senada

Rambut kita tak begitu seragam

Ratap kita tak begitu searah

Aku tak sebegitunya lugu

Anganku tak kadang binasa

Emosiku tak kadang kandas

Namun, aku selalu menyamakan satuan waktuku untukmu.

Manusia Hujan

Hujan ceritakan aku tentang kesalmu

Pada Gunung atau lautan yang menelantarkanmu

Dan dari genangan dan rintikmu biar aku bermelankolis

Pada sajak ini biar berlapis mendung

dan pada bait-baitnya biar ku bercerita

Tentang rasa yang manusia jabar-jabarkan begitu rumit

Tentang rasa yang manusia agung-agungkan begitu salahnya

Tentang rasa yang manusia tangisi begitu polosnya

Begitu berlebih hingga perasaan tak lebih dari panggung sandiwara

-richardapatis

Paruh Waktu

Tak perlu lah kita bersedu-sedan

Pada sesaknya hati yang digores sepi

atau pada rindu yang memaki-maki jarak

Aku tak melibatkan rangka dan daging dalam mencintaimu

Biar malam yang menguji puing-puing rindu-ku yang beterbangan

Dan pagi yang menyapunya perlahan bersama senyap sepi

Terlebih aku kan dihabisi waktu dan

rangka-ku kan jadi debu

Namun perasaanku mengabdi pada yang abadi

-richardapatis

 

 

 

Hujan tak Ingin Sendiri

Hujan ini, tempat kita membisu dan meredam

tetes ini masih ku ingat, tempat biasa ku menyembunyikan tangis

dan menghabiskan sedih yang sudah-sudah

Bersamamu, aku lebih paham tentang hujan

diciptakan untuk saling meredam antar kata dan rasa

Tak perlu kita saling mengencangkan pita

Nyatanya, kebisuan yang buat semuanya menjawab

bahwa tak semua ingin menyendiri, bahkan hujan pun tidak

Mega langit juga enggan, aku juga enggan, engkau juga enggan

Yang hilang, kan pulang dan yang pulang akan disadarkan

-richardapatis

 

Yes, We Were Lost in Our Hometown

Note: Terinspirasi dari pembicaraan dengan Sigit “TigaPagi” di Jalan Asia Afrika bersama kawan (Abi, Marco, Ryoji). Suasana malam, topik pembicaraan, canda, dan tawa, tanpa basi-basi langsung saja ku-endapkan dalam tulisan agar lupa tak lekas kunjung.–

 

(Arah-arah kini sudah kehilangan jalan

Suasana yang biasanya ku-rindukan

Ternyata sudah mudah dimanipulasi

Apalah arti rindu

Kala Jarak sekarang sudah mudah dibagi

Kala Mimpi sekarang sudah mudah diproyeksikan

Aku Pulang

Mungkin bukan pada saat yang tepat

Bermodalkan kertas tiket

Arah menolak dikonsentrasikan

Mengikuti alunan kereta

kini tiba di kampung halaman

Bukan seperti yang dulu

Entah dimana aku berpulang

Rindu ini juga tak mudah dibius

Ke-pulanganku mungkin sudah punah pada era globalisasi.)

RichardApatisjl asia afrika

 

 

 

 

 

 

 

Lorong Waktu

Kehidupan semakin abu di sini

Tak pernah di siasati, Hidup telah menipu

Dalam tipu daya-nya

Tawa tak ada artinya, bahkan tangis tak berharga 1 sen-pun

.

Memori terus menumpuk

Seiring hari yang selalu dilalap habis oleh gelap malam

Bukan maksud-ku tuk mengungkit yang sudah-sudah

Namun, apalah arti esok tanpa hari kemarin?

.

Aku berjalan tanpa arah

Sengaja tuk tersesat

Aku tersesat dalam waktu

Dibungkam oleh ketidak-berdayaan

Aku ingin kembali

Menyusun waktu selayaknya puzzle

Agar sesuai ekspetasi tanpa spekulasi

Senyumku tak lagi berkamuflase

Hidupku tak lagi abu

.

richardapatis

 

Rindu tak bertuan

Terlalu dalam tenggelam dalam kata, berkata pun aku tak mampu

Terlalu tinggi bermain dalam nada, bersiul pun kaku rasanya bibir ini

Terlalu lampau ku bercurah pada sebuah sajak, berprosa pun tak kian juga rindu ini bertuan

dari sabang hingga merauke

tersebar setiap benih rindu

mencari tuan, berharap tuk dipelihara

Tak juga rindu ini pernah bertuan

Kata pun tak bisa melukiskan sebuah rindu lagi

Nada C hingga C# tak dapat bersimfoni lagi tentang rindu

Hanya kepada pasir,hujan, dan laut kuberharap rindu ini akan bertuan

richardapatis

Terkata

Terbilang cinta adalah sebuah tanya dan titik

Yang membaur menjadi sebuah entitas

Terbilang rindu adalah sebuah waktu dan perasaan

Yang membelah seperti amoeba

Kembali lagi kepada sebuah paradoks

Yang kian berputar pada sebuah kepastian 

Seperti tanya dan titik, yang hanya menuntut tanpa adanya keseimbangan

Terkata, kita adalah untaian sebuah sepi 

Menjadi nada tanpa fals

Yang kemudian bersenandung dalam cressendo

Seperti itulah kita akan memanggil

Tanpa suara, hanya rasa

Yang kian menguat tanpa harus berkorban

Sesederhana itu

Seperti dosa yang merindu pada sebuah ketamakan.
richardapatis