Day 3 – Kebenaran Absolut

Bukan tempat dan harta

Yang sebabkan begitu banyak rangka

Begitu juga dengan tangisan dan asa

Yang sebabkan begitu banyak kemenangan

Mereka berdiri di tempatnya masing-masing

Berdoa di mangkoknya masing-masing

Iba di jerujinya masing-masing

Absolut adalah mereka

dan kebenaran bukan milik mereka.

-richardapatis

Day 2 – Penyucian

Tiada adalah janji

Beliau datang bersama kuda peraknya

seluruh jemarinya menggantung nafasku

dan dibelainya satu-persatu dosa-dosaku yang hina

Manusia adalah salah satu atlet pendosa yang berbakat

 

Seluruh puisi ini hanya kata-kata kosong, tak lebih tuan-ku

Aku ini hanya budak dari budi pekerti

dan dosa membebaskanku dari dunia yang abu

Memang puisi tak akan mengantarku ke mana-mana

Kajiannya yang kadang sedalam kitab

telah menyucikan aku dari ketiadaan.

 

-richardapatis

 

Tanpa Pesan

Waktu adalah kosong

Sepi dan dusta

Bukan cakap kita tuk menentukan roman

Bukan kasur kita tuk menentukan intim

Bukan sajak kita tuk menentukan rasa

.

Keheninganmu ku-pinjam sesaat

Kubiarkan seadanya dulu

Lalu kukembalikan lagi.

-richardapatis-

(Kosong)

Sebelumnya,

Aku kerap berjalan di tanah suci di sekitar hegarmanah sana

Tak jarang embun menyapaku

Bertanya tentang keikhlasan mimpi tadi malam.

Berbicara tentang pohon pinusnya yang tak kuasa digerogoti rayap

Tak satupun abadi bahkan aku yang tak pernah berdosa ini, akan sirna

Senja mengintip dari bukit sana

Mengganti langit yang tak kuat menahan letihnya

Gerutu si senja

Semuanya ku dengar akan pudar

Tak ada lagi ampas kafein di cangkir kesukaanmu itu

bahkan debu di buku harianmu

juga itu senyum-mu itu, yang terkadang jadi alasanku tuk hidup

 

Tak Begitu

Tak begitu banyaknya, biarlah

Kita tak begitu serakah

dan tak menuntut lebih

Tak begitu mewahnya, biarlah

Kita tak begitu perlu

dan tak dibutakan

 

Bincang dan Canda cukup jadikan kita kaya

Sejatinya, kita tak pernah membunuh anak kecil pada diri kita

Yang cukup jadikan tawa jadi beras

Yang cukup jadikan senja jadi barcelona

Yang cukup jadikan debu jadi berlian

Yang cukup dan tak begitu

dan Tak perlu ditetapikan

-richardapatis

 

 

Label

Manusianya berjejer rapi dan berkoar buas

Membanjiri lambah yang penuh takwa

Membutakan langit yang penuh kebebasan

tak lagi-lagi kau rajam dirimu dengan atribut

semakin mati rasa kau dibuatnya

Kau kumandangkan kebebasan dengan lantangnya

dengan benang-benang boneka dipundakmu

dengan sinar yang membutakan arahmu

dengan bayang yang memalsukan langkahmu

Semuanya tak lagi-lagi sama

dan tak lagi-lagi benar

Kita hanyalah label

Yang penuh bangga tak beraturan.

Semerdeka-merdekanya dirimu,

belum murni artinya jika kau labeli dengan atribut dan warna

-richardapatis

 

Puzzle

Pada kitab kejadian

Hari 1 hingga ke-7

Semuanya diciptakan dari mikro hingga makro

dari tiada ke ada

Dari yang nalar jangkau hingga tak terjangkau

dan engkau terselip di antara kejadian itu

Semuanya begitu abu dan membingungkan

Tentang hujan yang turun dari matamu

Tentang matahari yang terbenam di keningmu

Tentang senja yang berlabuh di kulitmu

Tentang semesta yang bersembunyi di pundakmu

-richardapatis

 

Skeptis (Feels)

 

Lihat sejoli itu, bahagia bukan main

Merangkai kata dan memahat nama mereka di pohon

Cih, roman picisan

Sebenarnya ini hanya masalah alur waktu

Seperti novel, kau bebas ciptakan alur dan tema

Serta kondisi dan prahara

Karena kita bahagia dan seterusnya

kita mampu berucap ini-itu

Karena kita merasa seperti ditakdirkan

Seolah Tuhan tidak bermain dadu pada langkah kita

Aku skeptis pada perasaan dan antek-anteknya

Bahagia dilahirkan perasaan

Atau dilahirkan oleh dopamine belaka?

Perasaan, tak lebih adalah tempat berlindung manusia yang tak tahu harus berbuat apa

Perasaan sekiranya menutup sebelah mata kita, meredam suara, dan mengikat pita suara

Perasaan membungkam

dengan kecup

dengan bisik

dengan peluk

Kita, manusia dan yang lainnya berlindung pada perasaan

tak lebih dan tak kurang!

Aku skeptis pada perasaan

-richardapatis

Mata dan Fisika

Pupilmu melahap habis gelap-gelap yang ada padaku

Lebih pekat dari kopi

Lebih gelap dari malam

dan sesunyi angka konsonan

iris -mu lah mewarnai monokrom jiwaku

Yang dulu tak beraturan kini rapi dalam tumpukan

Yang dulu bergerak lurus beraturan kini menari lincah pada dawai-dawai

tak seindah pelangi, namun tak banyak tetapi

Dan aku berlindung pada mata-mu

tenggelam padanya dan melawan archimedes

Tatap kita saling menarik tanpa medium

Sepertinya benar, gravitasi sudah tak berlaku

-richardapatis