Day 6 – Separasi

Tak ada kepulangan yang begitu berarti

 

Rotasi tak perlu bermelankolis

Kalibrasi tak perlu separasi

Rasa tak akan pernah berimigrasi

Begitu juga kenangan tak akan pernah selaras

Kenangan selalu berjarak

Detik hingga detik

Pilu hingga ronanya

Semakin jauh bidikan rindumu

Semakin menghujam pilunya

Rindu tak pernah berbelas kasihan

-richardapatis

Advertisements

Day 5 – Kepulangan

Dadaku biru, membiru bulat dan menghantu sesat

Pikirku kosong, sekosong kata dan sehampa rongga

Kau berjanji kepulangan kan selalu bahagia dan penuh rindu di sudut-sudut kota ini

Tapi mereka kosong dan hanya janji belaka

Penuh investasi namun minim fraksi

Penuh warna namun minim rasa

Lagu tigapagi berdengung di setiap kesunyianku

Aku tersesat di jalan yang kugemari

Aku tersesat di rindu yang selalu ku kenang

-richardapatis

 

Day 4 – The Roots

Hidup yang fana ini tak mengajariku apa-apa

Aku dibuat sepihak

Namun, akan dihakimi banyak pihak

Aku terbuang dari eden

Namun, tak ada lagi tempat yang begitu ku-rindu

Aku dibuat bertapak

Namun langit tak pernah membuatku iri

.

Aku bersama mereka

Wahai para pendosa

dan pengikutnya

Aku bersama mereka

Wahai pengikut kebebasan

dan sekutunya

Mari terbenam kembali!

 

 

 

Day 3 – Kebenaran Absolut

Bukan tempat dan harta

Yang sebabkan begitu banyak rangka

Begitu juga dengan tangisan dan asa

Yang sebabkan begitu banyak kemenangan

Mereka berdiri di tempatnya masing-masing

Berdoa di mangkoknya masing-masing

Iba di jerujinya masing-masing

Absolut adalah mereka

dan kebenaran bukan milik mereka.

-richardapatis

Day 2 – Penyucian

Tiada adalah janji

Beliau datang bersama kuda peraknya

seluruh jemarinya menggantung nafasku

dan dibelainya satu-persatu dosa-dosaku yang hina

Manusia adalah salah satu atlet pendosa yang berbakat

 

Seluruh puisi ini hanya kata-kata kosong, tak lebih tuan-ku

Aku ini hanya budak dari budi pekerti

dan dosa membebaskanku dari dunia yang abu

Memang puisi tak akan mengantarku ke mana-mana

Kajiannya yang kadang sedalam kitab

telah menyucikan aku dari ketiadaan.

 

-richardapatis

 

Tanpa Pesan

Waktu adalah kosong

Sepi dan dusta

Bukan cakap kita tuk menentukan roman

Bukan kasur kita tuk menentukan intim

Bukan sajak kita tuk menentukan rasa

.

Keheninganmu ku-pinjam sesaat

Kubiarkan seadanya dulu

Lalu kukembalikan lagi.

-richardapatis-

(Kosong)

Sebelumnya,

Aku kerap berjalan di tanah suci di sekitar hegarmanah sana

Tak jarang embun menyapaku

Bertanya tentang keikhlasan mimpi tadi malam.

Berbicara tentang pohon pinusnya yang tak kuasa digerogoti rayap

Tak satupun abadi bahkan aku yang tak pernah berdosa ini, akan sirna

Senja mengintip dari bukit sana

Mengganti langit yang tak kuat menahan letihnya

Gerutu si senja

Semuanya ku dengar akan pudar

Tak ada lagi ampas kafein di cangkir kesukaanmu itu

bahkan debu di buku harianmu

juga itu senyum-mu itu, yang terkadang jadi alasanku tuk hidup

 

Tak Begitu

Tak begitu banyaknya, biarlah

Kita tak begitu serakah

dan tak menuntut lebih

Tak begitu mewahnya, biarlah

Kita tak begitu perlu

dan tak dibutakan

 

Bincang dan Canda cukup jadikan kita kaya

Sejatinya, kita tak pernah membunuh anak kecil pada diri kita

Yang cukup jadikan tawa jadi beras

Yang cukup jadikan senja jadi barcelona

Yang cukup jadikan debu jadi berlian

Yang cukup dan tak begitu

dan Tak perlu ditetapikan

-richardapatis

 

 

Label

Manusianya berjejer rapi dan berkoar buas

Membanjiri lambah yang penuh takwa

Membutakan langit yang penuh kebebasan

tak lagi-lagi kau rajam dirimu dengan atribut

semakin mati rasa kau dibuatnya

Kau kumandangkan kebebasan dengan lantangnya

dengan benang-benang boneka dipundakmu

dengan sinar yang membutakan arahmu

dengan bayang yang memalsukan langkahmu

Semuanya tak lagi-lagi sama

dan tak lagi-lagi benar

Kita hanyalah label

Yang penuh bangga tak beraturan.

Semerdeka-merdekanya dirimu,

belum murni artinya jika kau labeli dengan atribut dan warna

-richardapatis