Day 21 – Perihal Kalian

Dulu begitu diagungkan

sehingga disematkannya 2 sampai 3 ayat

Dibalik ringkuk dan deru nya

kita dibuat menjadi terbiasa dengan awam

Tak ada yang berarti dari sebuah senyum

Apa yang hendak kita buat dari ini

Rejeki dijadikannya awam

Doa dijadikkannya awam

Kematian pun dijadikan awam

Kemana kita berpindah?

-richardapatis

Advertisements

Day 20- Shoegaze

Tinta pena telah pudar

dan yang kosong telah jadi kabut di antara lembaran-lembaran

Anggur tak bersila di penghujung cawanku

Pahit pagiku bukan juga dari kopi

Malam-pun tak pernah berlarut lama-lama

Mataku abu bak seorang yang nestapa

Apa yang hendak ku tulis di lembar-lembar fana ini

Betul juga, ketenangan tak akan pernah berangkat ke mana-mana

sedangkah “gaduh” tentu sudah sampai Netherland

barangkali “gerutu” sudah menghancurkan tembok berlin

dan saudaranya “reckless” sudah sampai di switzterland

Aku benci ketenangan ini.

-richardapatis

Day 18 – (Bukan) Jalan Pulang

Langkah pulang tak pernah bertuan

Pengembara fana saling bersilang

Bertanya-tanya tentang jalan pulang

Siapa miliki?

Kita ini tersesat bukan..

Di tempat serba berkecupan

Di tempat yang sudah di tata serapi ini

Masih saja tersesat dan ingin berpulang..

Tunggu, aku tak berbicara tentang akhirat

tak sedikitpun tersirat tentang itu

Aku berbicara tentang sebuah rumah, bukan balok

Aku berbicara tentang taman, bukan rumput

Aku berbicara tentang keluarga, bukan ayah atau ibu

Bagi mereka yang kerap tersesat

Kepulangan adalah ketidaktahuan arah

-richardapatis

Day 17- Bingkai

Pagi nya belum berlalu

Mimpi masih bertetesan dari ubun-ubunnya

Retakan-retakan yang manusiawi mulai mengkeriputi wajahnya

Tentang asa dan para sekutunya, nuraninya mati

Akal dan Tuhannya membingkai perilakunya

Sekitar dan belukar, bukan lagi miliknya

Memilih mati bukan juga haknya

Hidup-pun bukan haknya

Ia dibingkai leluhurnya sendiri

Ia tak menenun benang-benang hidupnya

Leluhurnya yang sudah jadi tanah bermain dadu dengan takdirnya

Mati dan Hidup, siapa miliki?

Day 15- Ang San Mei

Ang San Mei, janganlah membiru

Biarlah hanya Kutub

Juga jangan aku

Ang San Mei, jangan bersekutu dengan rindu

Biarlah para pengecut

Tapi jangan kau

Ang San Mei, begitu banyak titik

Yang lain biar terhenti, namun jangan kau

koma, selalulah ingat koma

Ang San Mei, semoga sang waktu tak akan membencimu.

Yang lain saja biar benci, jangan waktu

Juga jangan aku

-richardapatis

 

Day 14 – Ketidaktahuan

Apakah di sana hujan?

tentang rintik dan selimutnya, tolong ceritakan padaku

Apakah di sana berkabut?

tentang pudar dan risaunya, tolong dongengkan padaku

Tentang jalan kecil yang biasa kita lewati

Masihkah adinda bermain dengan truk kecilnya?

Tentang malam dan subuhnya, yang Tuhan-pun tak kuasa mengadukan lelapnya

Masihkah resah kita pada esok?

Sebuah perpisahan yang Tuhan tak catatkan pada kitabnya

Selamat tinggal muda

-richardapatis

Day 13 – Sudah kah?

Jemariku hampa dari kata

kosong dan tak elegan

Mataku hampa dari harap

sayu dan tak melawan

Telingaku hampa dari sabda

Ricuh dan tak suci

Sudah kah aku terbebas dari segala yang lalu?

Semakin maju, semakin juga harus terpuruk

Semakin beradab, semakin banyak juga yang harus tunduk

Siapa yang diperadabkan? Akal atau Lutut?

-richardapatis

 

 

Day 12 -Surga Belum Tentu Jadi Tempatku

Waktunya akan tiba
Yang begitu dingin , sepi , dan tak terelakkan
Begitu juga dengan kematian
Yang banyak tak tahu, tapi gemar menyimpulkan

Waktunya akan tiba pula
Yang begitu rumit, keji , dan tak terbantahkan
Begitu juga dengan kehidupan
Yang banyak tak paham tapi gemar menafsirkan

Aku bersemayam di kitab-kitab yang suci
Hidup dan beranak pinak di ayat-ayat yang tersusun rapi
Satu pintaku, tak berani aku bermimpi dijamu di surga

-richardapatis

Day 11 – Walk In The Park

Kesunyian tempatku bersemayam

mengais pilu dari segala yang lalu

mengendap di tempat yang gelap

Ku dengarkan segala tembang yang pilu

Seolah kesunyian ini tempat bersembunyi yang sempurna

Waktu kian membenciku

sebab detiknya tak mampu menjamahku

tak ada kata terlambat maupun terburu-buru di tempat ku mengendap

tak ada lagi kematian dan kehidupan yang begitu dielukan

Semuanya sempurna, tentang taman yang tak dihinggapi burung gereja dan kupu-kupu

Tentang nadi yang tak merah dan jantung yang tak berdegup

-richardapatis