Tawa adalah kebutuhan tersier

Bukankah aku sudah cukup berani untuk  meletakkan harapku di kota rantau, terbawa dalam alurnya selalu mengartikan tiap terjalnya hidup menjadi sebuah makna yang kuharap akan menjadi pola. Bukankah aku sudah rasional, untuk tak selalu menuntut pada semesta tuk memudahkan hidup, berharap aku dibentuk bukan karena aku “punya” melainkan aku “dapat”. Belum lagi dengan jarak yang memisahkan, bukan kepada geografis, namun jarak waktu untuk meraih kenangan-kenangan yang selalu ku-doakan dapat kembali terulang lagi. Waktu dulu, aku tidur dengan pagi yang pasti sudah dijanjikan akan lunaknya hidup, sekarang ini hanya masalah judi nasib dalam poker kehidupan. Aku selalu menuntut pada semesta untuk selalu meyakinkan bahwa esok lebih baik. Memang siapa “esok” itu, yang selalu ku-doakan untuk menjadi lebih baik, namun apa? Tertawa pun sudah menjadi barang tersier dalam hidupku, aku tertawa karena otot-otot wajah, namun bukan dari sanubari hati. Seiring detik yang berubah menjadi tahun, harap sudah jadi bubur. Se-lelah apa aku menyusun potongan-potongan tuk kembali tuh, yang sudah pecah tetaplah tak akan menjadi sesolid dahulu. Tolong arahkan doa-doaku yang tersesat dalam perjalanannya, agar dapat kembali pada-Nya. Sudah lama aku tak mempertemukan telapak tangan kiriku dan kananku untuk sekedar berterimakasih, hidup ini membuatku sombong, berharap seorang diri dapat menaklukkan buasnya ombak kehidupan. Mungkin benar, kenihilan adalah sebuah awal kehidupan, dari kehancuran kita akan tahu dan belajar berharganya sebuah hidup. Bukan begitu?

.

POHON PINUS

Rumah

Semua orang tentu memiliki rumah, tempat mereka hidup dan tumbuh

Namun apakah itu rumah? sebuah bangunan yang dibangun di atas sebuah lahan?

Apakah kalian akan menjawab alamat rumah kalian ketika ada yang bertanya ” Di mana rumahmu?”

Pertanyaan klise yang sering diajukan ketika berkenalan

Bagiku rumah bukanlah sebuah letak maupun tanah ataupun bangunan megah

Rumah ADALAH sebuah moment

Kalian boleh memiliki lantai berlapis berlian dan kasur sehalus sutra

Namun apakah itu bisa disebut sebuah rumah?

Lalu apakah tentara yang berperang di gurun sana,  tidur dan hidup di atas sebuah pasir

Begitu juga dengan para gelandangan di luar sana, yang tidur dan hidup di atas tumpukan kardus bekas

Apalagi mereka para pengembara, mereka tidur di tempat yang silih berganti tanpa tujuan yang pasti

Bagiku rumah itu tidak ada secara keberadaannya, rumah adalah kita, di mana kita berada di situlah rumah

Cinta Milik Semua Umur!

Semua orang pernah mengalami drama cinta dikehidupan ini,SD SMP SMA Kuliah merupakan tahap-tahapnya kita mengalami hal yang namanya cinta.Tak jarang kita mendengar “Ah,kamu mah masih kecil,ngerti apa sih tentang cinta?” “Cinta monyet tuh”

Mungkin saya-pun pernah berkata seperti itu ke teman saya,namun dirasa-rasa setelah menjalani fase SD,SMP,SMA dan kuliah , ternyata cinta bukan hanya milik orang dewasa saja!Menurut saya Cinta adalah milik semua umur.Entah saat SD SMP SMA Kuliah kita pasti pernah merasakan cinta kepada orang lain.

Tidak ada yang namanya cinta monyet atau kita masih terlalu kecil untuk paham apa itu cinta.Bukan itu maksud dari cinta.Menurut saya cinta adalah bagaimana kita belajar untuk menyayangi seseorang dengan apa yang kita punya dan sifat yang kita miliki.Bukan masalah umur atau sikap kekanak-kanakan atau sikap dewasa yang dapat menentukan apa itu cinta.Semakin tua bukan berarti kita mengerti apa itu cinta,banyak ayah yang membunuh anaknya sendiri,namun banyak juga anak kecil yang rela mati demi menyelamatkan temannya.

Cinta adalah tahap,tahap dimana kita belajar untuk dapat memberi lebih kepada orang yang kita kasihi,tahap dimana kita mau berusaha lebih untuk orang yang kita cintai,tahap dimana kita tidak merasa berkorban karena kebahagiaan dia merupakan kebahagiaan “aku” juga.Cinta adalah milik semua umur!

Regards

RichardApatis

ffss

 

Bersatu atau Menolak Perbedaan?

Indonesia,mendengar nama dari negara ini pasti yang terpikir adalah keberagamannya,entah dari budaya,ras,kepercayaan dan lain-lain.Kehidupan saya dulu di Jogjakarta sempat dihadapkan dengan persoalan keberagaman ini,di mana kami hidup secara berdampingan.Kehidupan saya yang sekarang di Bandung juga sama,kami hidup secara berdampingan antara ras Chinnese dan Pribumi dan berbagai kepercayaan yang ada.

Sering dikoar-koarkan kita berbeda tapi tetap satu..Kita selalu di-ingatkan bahwa kita sama-sama menyembah Tuhan dan tinggal di tempat yang sama yaitu:Bumi..Bila kita memang saling menghargainya adanya perbedaan,kenapa yang selalu disorot hanyalah persamaannya saja?Perbedaan tak pernah disorot dikarenakan takut menyinggung.Apakah itu yang dinamakan bersatu?

Yang saya takutkan adalah ketika kita hidup dalam kondisi dimana banyak keberagaman,lalu mereka terlalu fokus terhadap persamaan yang ada dari hal keberagaman tersebut.Hal ini membuat perbedaan sendiri menjadi tabu dikarenakan takut menyinggung perasaan antar 1 dengan yang lain.Apakah ini yang dinamakan Bhinneka Tung*al Ika?

Apakah hal seperti ini sudah menjadi Budaya di Negeri kita?Ya!kita memang hidup secara berdampingan.Tapi yang kita lihat selalu dari sisi “Persamaan” dan bersikap acuh tak acuh mengenai “perbedaan”. Apakah generasi kita setakut itu dengan yang namanya perbedaan? 

Perbedaan menjadi hal yang sangat tabu untuk dibicarakan di kalangan kita yang tinggal dalam keberagaman ini?Mengapa hal ini terjadi?Apakah slogan “berbeda-beda tapi tetap 1” hanya ada di mulut saja?

Begini saja anggap saja perbedaan yang tengah terjadi di lingkungan kita adalah warna,anggap saja Hijau dan Kuning.Kedua warna ini bila disatukan akan menjadi warna biru?Kembali lagi ke pertanyaan awal “Apakah biru merupakan warna kuning / biru?” Bukan!tapi biru merupakan gabungan dari warna kuning dan hijau.Jangan sekali-kali menggabung-gabungkan sebuah perbedaan menjadi persamaan!

Yang harus kita lakukan adalah diskusi antar perbedaan tersebut agar kita saling mengerti.Jangan menjadikan “persamaan” menjadi tameng bagi kita yang takut akan perbedaan!

Kritis atau Krisis Identitas?

Kita hidup di lingkungan yang sedang mengalami perkembangan.Perkembangan yang ditunjukan dengan aksi,  tentu ber-awal hanya dari sebuah ide.Sehingga “berpikir kritis” sudah sangat diperlukan untuk mengantisipasi banyaknya kesalahan dalam sebuah sistem/proyek. Yang saya lihat dari institut-institut pendidikan di zaman sekarang sedang marak-maraknya menekankan “berpikir kritis” kepada pelajar-pelajarnya.Yang ingin saya sorot disini adalah penerapan ilmu kritis di dunia pendidikan.Di dunia pendidikan sekarang,sedang trendnya diterapkan pemikiran kritis .

Memang perlu kita mempunyai pemikiran kritis , namun ironisnya banyak dari kita melahap mentah-mentah ilmu itu!
Menurut saya kritis itu rasa ingin tahu yang besar, berusaha mencari celah/kekurangan dari suatu pernyataan ,lalu tidak mudah mengikuti sesuatu tanpa adanya kepastian.Namun banyak dari kita menerapkan ilmu kritis yang di doktrin-kan oleh para pendidik secara mentah-mentah!

Banyak dari kita mem-praktekkan pemikiran kritis hanya untuk menjatuhkan orang lain, biar terlihat pintar oleh orang lain.Padahal nyatanya kita sendiri hanya meng-kritisi sesuatu untuk menunjang popularitas/kebanggaan diri sendiri.APAKAH itu yang dinamakan PEMIKIRAN KRITIS?

Ya!Saya setuju bila kita meng-kritisi sesuatu apabila kita tidak setuju dengan sebuah pernyataan yang non-sense dan memang salah.Tapi apabila pernyataan itu betul menurut kita dan dapat dibenarkan apakah harus di kritisi?dan apabila kita setuju dengan pernyataan tsb dan kita tetap meng-kritisi hal tersebut dan terkesan menjatuhkan orang lain hanya untuk terlihat bahwa kita pintar dan kritis?sekarang kembali lagi ke pernyataan saya ANDA ini KRITIS/KRISIS IDENTITAS? Apakah pengertian kritis hanya sekedar untuk menjatuhkan seseorang?Anda sedang kritis atau berdebat?

Sekarang kembali lagi,ketika kita didoktrin untuk berpikir kritis namun kita sendiri belum mengerti betul arti dari berpikir kritis,lalu kita menerapkan ilmu “berpikir kritis” secara asal-asalan tanpa mengetahui arti nya yang betul.Apakah kita masih bisa di sebut pemikir yang kritis?

Saya menulis ini dikarenakan saya sering sekali melihat seseorang yang meng-kritisi orang lain dan yang terjadi bukan komunikasi 2 arah melainkan 1 pihak memaksakan pemikirannya ke orang lain dan cenderung mengarah ke debat.Apakah itu kritis?Kritis itu tidak sama dengan pengertian debat maupun diskusi.

Yang sangat dipertanyakan adalah apakah ketika para pendidik mengajarkan kita untuk berpikir kritis,apakah mereka sendiri paham betul arti berpikir kritis?

Terimakasih

Regards

richardapatis