Sebuah Keberadaan

Di dimensi waktu manakah engkau tertinggal?

Atau mungkin engkau terselip di antara buku-buku tua itu

di halaman-halaman yang telah berdebu mungkin

mungkin juga engkau ter-urai di embun pagi yang menetes dari atap tua itu

Mungkin juga aku lah yang enggan mencarimu sepenuh hati

Atau dirimu kah yang enggan untuk ditemukan?

Baiklah, Kala nanti engkau hendak mencariku.

Rabalah aku di baris baris puisi yang biasa ku buat 

Atau di sela sela doa malammu yang kadang kusyuk 

Mungkin memang sebuah keberadaan yang kita ingini masih jauh di sana 

Perlu waktu untuk ke sana

Juga tangis dan tawa

tapi ayo lekas!

-richardapatis

Jarak dan Waktu

Malam telah berlalu dan yang dingin telah luluh

Segala bentuk rindu sudah dianulir

“Jarak adalah sebagian dari perasaan” imbuhnya

“Waktu adalah keterbatasan perasaan” terangnya

Bila begitu, sudah selayaknya kita sisakan jarak di antara bibir

Bila begitu, sudah selayaknya kita luangkan waktu untuk sendiri menikmati sunyi

Kita sisakan dingin malam ini

Yang kelak akan kita habiskan di pesisir pantai

dan sejenak artikan malam-malam tanpamu atau tanpaku

Kita sisakan jarak-jarak dalam kantong kita masing-masing

Yang kelak kita tebar di ujung-ujung jurang itu

dan sejenak artikan tatapan tanpa pertemuan

Jarak dan Waktu adalah sebagian dari perasaan yang  kita lupakan

-richardapatis

 

 

 

 

Warung Kopi

Aku ingin kita ke warung kopi

meneguk kafein sebanyak-banyaknya dan tidak pernah terlelap untuk waktu yang lama

Aku ingin kita teguk kopi 

Pahitnya kita tolerir

Getirnya kita pahami

Hidup tak berbeda jauh dengan warung kopi

Pahitnya kita pelajari

Getirnya kita sudahi

Mari kita ke warung kopi

dan jadikan engkau kanopi

Mari kita ke warung kopi 

dan nyalakan yang padam jadi api

Sebenarnya aku hanya ingin minum kopi

Untuk hari yang tak lagi kita ratapi

-richardapatis

Kamar 3X4

Pagi ini, sebelum sang surya bangun dari tahtanya

Aku sudah terjaga, menunggu pagi

Menunggu matamu yang sayu tuk segera terjaga

Berharap semua kan tertata rapi seperti   biasanya

Layaknya buku-buku yang tersusun rapi di sudut kamarmu

Semuanya begitu pasti, layaknya ayat-ayat yang kita bacakan

Kita beranjak dari kasur masing-masing

Menyisakan begitu banyak pikir pada kening dan sedu pada bantal

Selimut ini tak cukup jadi hangat diantara dingin yang kita ciptakan

Semuanya pudar dalam bisu kita masing-masing

Kamar ini adalah kapal tanpa nahkoda

menyusuri lautan hening tiada gema

-richardapatis

Manusia Hujan

Hujan ceritakan aku tentang kesalmu

Pada Gunung atau lautan yang menelantarkanmu

Dan dari genangan dan rintikmu biar aku bermelankolis

Pada sajak ini biar berlapis mendung

dan pada bait-baitnya biar ku bercerita

Tentang rasa yang manusia jabar-jabarkan begitu rumit

Tentang rasa yang manusia agung-agungkan begitu salahnya

Tentang rasa yang manusia tangisi begitu polosnya

Begitu berlebih hingga perasaan tak lebih dari panggung sandiwara

-richardapatis

Manusia

Sedu sedan manusia siapa yang tahu?

Toh, beliau menjanjikan semuanya rata

Gembira dan tawa manusia siapa yang tahu juga?

Toh, beliau memberikan waktu kita masing-masing

Tak ada yang tahu, dan juga tidak perlu dispekulasikan

Karena manusia takut bukan?

menebak yang gelap dan sunyi

Dingin dan getir……

Berharap pengampunan lebih cepat dan ketiadaan datang terlambat

-richardapatis

Nomaden

Aku tak lagi bertuan

dan sudah tidak lagi menetap

Rumah adalah perihal perasaan

dan rindu adalah perihal ke-egoisan sesaat kepada waktu.

Aku tak lagi bersemayam

dan sudah tidak lagi terpanggil

Kepulangan adalah perihal ke-ikhlasan

dan memori adalah perihal dongeng pengantar tidur saja

Aku tak lagi tersesat pada arah atau alur waktu

Antara daratan dan lautan, tak kan ada lagi perjalanan

dan biar ku cari engkau di setiap sela-sela waktuku

-richardapatis