Saksi Perjalanan

Lampu-lampu jalanan telah jadi saksi

perjalanan kita menempuh antar dimensi

dengan kau di belakangku, menuntun secara halus

Dingin malam juga menjadi saksi

Pelukan kita melawan kebiruan malam

dengan kau di pundakku, mengerami rasa dan melahirkan hangat

Pohon-pohon pinus juga jadi saksi

gema tawa kita menerobos ruang waktu

dengan kau di sampingku, membunuh hari per hari secara perlahan

dan kelak, rumah-rumah tua itu akan jadi saksi bisu

tentang keabadian yang selama ini kita bangun

-richardapatis

 

Sekoci Malam

Malam ini

aku enggan terlelap

mataku tak lepas memandangi langit, menelan bulat bulat gelapnya malam

ragaku tak lepas bergelantungan pada kabut malam, bertelanjang diri dan menapak sepi

jemariku tak lepas menggerayangi bulan, meremasnya hingga bertetes darah

rahangku tak lepas menggigit jarum jam, menahan malam sedikit lebih lama

nafasku sedikit sesak, tersedak pahitnya rembulan
dan aku berlayar pada sekoci tua, menyusuri langit malam 

-richardapatis

Laut Sepi

Oleh Nelayan kepada laut

garam-mu memberi pedih luka ini makin menjadi

dan badai yang kau lahirkan, membuat kapal ini kehilangan dermaganya

tapi tak apalah, aku ingin menyendiri di tengah lautan

mendengar suara burung camar dan nyanyian duyung-duyung

Aku tak ingin beramai-beramai bila berbicara tentang pedih

Cukup angin dan pasir yang jadi pendengar

Jala-ku berlubang dan darahku mengalir deras

Pancingku tumpul dan nurani ku sudah mati

Layarku terhempas dan pikiranku digerogoti oleh umur

Maka sudahlah, biar aku mati di sini dan dijadikannya Laut merah.

-richardapatis

Bedah

Aku membedah rindu dan mengirisnya menjadi bagian-bagian kecil

Menganatomi dan mengkulturkannya

Antara dingin dan sepi

Rindu selalu beranak-pinak

.

Aku membedah perasaan ini dan membuahkannya pada dimensi waktu

Menyeterilkannya pada waktu yang berlapis-lapis tipis

Antara kini dan kala

Engkau selalu terlahir di pagi hari tanpa kecuali

.

Kita selalu berufuk pada sedimen yang sudah-sudah

namun biar ku ukir engkau setiap senja

Berulang dan berulang

Hingga kini dan lalu bukanlah jarak antar waktu dan rasa.

-richardapatis

 

 

Sisa Ruang

Takdir, kita sama-sama tahu

Aku kan menua

Dia kan menua

Oleh waktu atau zaman, kita kan terkikis dengan pasti

Sisakan setidaknya ruang yang cukup kelak

Untuk kita saling mengenang apa yang sudah-sudah

Untuk kita saling menggenggam butir-butir keikhlasan

Untuk kita saling menyaksikan rambut yang memutih dan kulit yang mengkerut

Dan aku tak mau kita menyisakan jarak antar apa yang sudah-sudah dan yang kini dijalani

Cukup ruang dan waktu, setidaknya bercengkrama dan menetertawakan hidup yang fana ini

-richardapatis

 

Abu

Aku ini masih abu

yang tak mampu diurai-urai lagi

Oleh hidup atau maut

Aku ini masih abu

yang linglung oleh kuasanya

dan berkutat pada yang fana

Aku ini masih abu

dan kau yakinkan aku kan memutih

dalam genggamannya

Tak perlu lah aku disuap oleh keabadian

karena aku tahu waktu sering bergumam pada telingaku

‘Manusia adalah yang sudah-sudah, hidup-mati bukanlah perkara lagi’

Aku ini abu

Biar ku mono, aku tahu cinta tak butuh tafsirannya

Pejaman matamu cukup lukiskan arti sangkakala

Senyummu cukup artikan pengampunan

dan dalam rusuk atau nadi-mu biar kutemukan surga yang sudah-sudah dilupakan

-richardapatis

Alchemy

Esok ini, siapa yang tahu

Kabul tebat, dan ufuk masih tak mampu ku jangkau

Meramu esok tak cukuplah dengan mimpi yang ala kadarnya

sebutir waktu, kita sisihkan bersama

Mencurangi takdir, berpaut pada maut

Manusia-nya menaruh curiga, dan Tuhan menyisihkan keajaibannya

Kadang, manusia butuh yang rumus tak mampu pecahkan

Alkimia diramu dan disesatkan

Namun, waktu perihal kebijaksaaan

dan keabadian adalah perihal keinginan sesaat

Esok ini siapa yang tahu?

-richardapatis

 

Ruang dan Liang

 

Matamu penuh sihir dan tatapanmu ciptakan ruang

Ruang bagi imajinasi yang tak kunjung pudar

Ruang bagi keluhku yang tak ada habisnya

Ruang bagi lembayung rindu

Ruang, di mana aku dengan bebas  menata  hari esok

Ruang, di mana aku jatuh hati untuk kesekian kalinya

dan detik itu sejenak kita berpikir

bagaimana perasaan bisa ciptakan apa yang logika tak mampu jangkau

bagaimana hidup yang rumit sejenak kita tangguhkan

Engkau adalah ruang dan liangku

-richardapatis