Aku khawatir, kala ku meredam begitu banyak kata

menjadikannya detik-detik yang terbuang

binasa dengan kenangan

Aku khawatir, kala ku menghujat masa lalu

menjadikannya luka-luka baru

lalu kita dijadikannya fana

Aku enggan menoleh pada yang sudah-sudah

namun sesak tetap menghantui, mengisi ronggaku secara penuh

Langkahku kaku dan hatiku membatu

Waktu, tolong hapus yang harusnya tak tertera pada esok hari

-richardapatis

 

 

Advertisements

Biar Aku

Biar aku memanjat pada bait-bait puisi

Karena kadang tak cukup dengan kata untuk saling jatuh hati

Biar aku merapalmu pada ayat-ayat suci

Karena kadang dengan syukur lah, kita dapat dipertemukan

Biar aku menjelma pada doa-doa di sanubarimu

Karena kadang aku tak ingin lekas meng-amini yang sudah-sudah

dan biar juga aku menjadi tetes-tetes hujan pada senja hari

karena langit yang indah tak terbentuk dari awan yang berdamai dengan panas matahari

dan biar aku jadi jendelamu, karena apa yang engkau cari sudah sepatutnya ada padaku.

-richardapatis

 

 

 

 

Gelap

Biar ku merangkak dalam gelap sepi

Berjalan dalam hutan sunyi penuh kabut

dan terhuyung-huyung letih penuh didih peluh

Tak juga binar cahaya menemukanku

Biar aku terkapar penuh ragu dengan tangan tak mengepal sekeras dahulu

Tak juga binar cahaya menyelimuti

Tatapku setajam maut dan tak juga rembulan menatap balik

Aku hilang dan terus menghilang

Gelap mencuri apa yang telah ada-ada padaku 

Aku kini kosong dan yang tersisa hanya kenangan

Karena kau satu-satunya binar cahaya yang telah sudi menyentuhku

Tak apalah aku dikurung sepi untuk sejenak mengingat apa yang kini tersisa dan harus kujaga

-richardapatis

Rumah Kaca

Dan engkau yang menabur dan memupuknya pula

Kala Kemarau dan Dingin

Pandangmu tak berdalih

Bahumu tak menunduk

Tanganmu tak mengepal pula

Begitu juga dengan Ingatanmu yang tak memudar

4 Musim dirasa tak cukup

dan aku tak berdalih, memang kadang waktu berpacu cepat kala kita berdialog

dan karena kita sama-sama tahu, maka itu kita bangun rumah kaca

Untuk sekedar saling menatap lebih lama dari biasanya

-richardapatis

 

 

Paruh Waktu

Tak perlu lah kita bersedu-sedan

Pada sesaknya hati yang digores sepi

atau pada rindu yang memaki-maki jarak

Aku tak melibatkan rangka dan daging dalam mencintaimu

Biar malam yang menguji puing-puing rindu-ku yang beterbangan

Dan pagi yang menyapunya perlahan bersama senyap sepi

Terlebih aku kan dihabisi waktu dan

rangka-ku kan jadi debu

Namun perasaanku mengabdi pada yang abadi

-richardapatis

 

 

 

Sabda

Untuk hidup ialah yang berdosa dalam pikiran dan perkataan

dan untuk itulah biar aku membaptismu dengan tetesnya sepi

Untuk tiada ialah yang bertobat dalam pikiran dan perkataan

dan untuk itulah biar aku jamu dengan sesuap keabadian

Anggur ini biar jadi damai antara kalian, wahai sepucuk senapan dan setangkai mawar

Roti ini biar jadi perjamuan antara kalian, wahai pendosa dan para pemuka agama

Abu ini biar jadi tanda antara kalian, wahai para janin dan kalian yang tua-renta

Sebab-sebab kita tak lagi abadi dan hidup-mati tidaklah jadi perkara

-richardapatis

 

 

 

 

 

 

 

Terimakasih

Untuk hidup dan segala penciptanya yang bijak

Aku berucap terimakasih.

Untuk umur ini yang setitik demi titik mulai menebal

dan untuk pengalaman yang jengkal demi jengkal mulai melingkar

dan tentu untuk setiap kasih, lara , tawa, dan sedu

tanpanya aku hanya jadi manusia yang tak berharga

oleh sebab itulah aku berterimakasih

dan dirimu yang mungkin sedang tertidur letih

Terimakasih telah ciptakan arti baru untuk kita dan semesta

untuk angan dan realita

untuk awal dan sebuah akhir

Terimakasih

-richardapatis

S__15163463

Storyteller

Sebelum matahari terbit, pastikan mimpi kita tertata rapi

dan biar embun menyiraminya dengan pasti

Hari t’lah berlalu, dan yang sudah biarlah jadi abu

esok masih bercerita dengan riangnya

dan yang kemarin masih tersusun rapi dalam kamarmu

Kenangan masih berjingkrak-jingkrak di alam bawah sadar

Bukankah angan kita sudah saling berjanji

bahwa perasaan tak mungkin di kambing hitam kan?

dan yang sudah berlalu biar jadi guru yang bijak?

dan satu lagi, aku mau belajar bersedih dan tertawa bersamamu

-richardapatis

 

 

 

 

 

Hujan tak Ingin Sendiri

Hujan ini, tempat kita membisu dan meredam

tetes ini masih ku ingat, tempat biasa ku menyembunyikan tangis

dan menghabiskan sedih yang sudah-sudah

Bersamamu, aku lebih paham tentang hujan

diciptakan untuk saling meredam antar kata dan rasa

Tak perlu kita saling mengencangkan pita

Nyatanya, kebisuan yang buat semuanya menjawab

bahwa tak semua ingin menyendiri, bahkan hujan pun tidak

Mega langit juga enggan, aku juga enggan, engkau juga enggan

Yang hilang, kan pulang dan yang pulang akan disadarkan

-richardapatis

 

Betadine.

Kata demi kata teruntai dengan rapi

dan kujaga maknanya juga

Tangis demi tangis biar berjatuhan

dan kujaga sebabnya juga

Senyum demi senyum biar terukir

dan kujaga juga ke-awetannya

Aku melangkah dengan pasti dan kau mengikuti dengan tegas

biar waktu mendewasakan dan umur yang menyempurnakan

Aku ingin menghabiskan matahari terbenam denganmu entah sampai kapanpun

Bahkan bulan muncul secara diam-diam, enggan mengganggu

dan kita bertatapan penuh sepi,

karena tatap berbicara mengenai takdir lebih dari kata

-richardapatis