Biru

 

Kita hanya kopi yang disajikan di bangku taman

pahit dan getir, namun tanpanya hujan tak akan lebih romantis lagi

Kita hanya buku tua yang diletakkan di meja kusang

kusam dan berdebu, namun tanpanya hidup tak akan lagi penuh tanya

Kita hanya cerutu yang dibakar pada malam hari

sesak dan melawan dingin, namun tanpanya mati tak akan lagi penuh misteri

Semua kan membiru pada akhirnya

Entah raga dan jiwa, semuanya kan jadi sunyi

Namun sebelum sunyi tiba, setidaknya kita pernah membising dari setiap hening yang meniadakan.

-richardapatis

 

Genesis

Aku mencintaimu dari garam dan tanah, maka dijadikannya laut dan seisinya

Aku mencintaimu dari uap dan tetes-tetes air, maka dijadikannya awan dan seisinya

Dari abu dan tanah liat, dibentuknya tulang belikat dan rusuk yang saling mengikat

Dari sedih dan kisah selanjutnya, dibentuknya pelangi yang melingkar di bola matamu

Maka untuk itu di bentuknya bulan, karena kita tahu Malam tak ingin sendiri

Maka untuk itu juga dibentuknya angin malam, karena sunyi malam terkadang mencekam sukma

Dan untuk itu kita berdoa, karena esok tak pernah menjanjikan apa-apa dan kita manusia yang penuh harap

Dan maka itu juga aku ingin mendekapmu, karena hidup tak pernah berbelas kasih

Dan terakhir aku menulismu erat-erat dalam gelap-gelap malam, karena aku tahu engkau yang menjagaku tetap hangat di malam yang dingin.

-richardapatis

 

Symphonia

Hari itu, sejauh yang ku ingat

Sebelum hilang dari kalbu

Begini

Hujan menetes tanpa bersuara

Bumi berhenti berotasi dan laut berhenti mengombak

Surga menutup pintunya, diikuti Neraka yang menutup erat-erat gerbangnya

Nafasku tak lagi abadi dan hatiku tak lagi mengabu

dan hari itu juga aku jatuh hati padamu.

-richardapatis

Abu-Abu

Ku-coba menerka-nerka terkadang

Manusia begitu kompleks

belum lagi tentang perasaan

begitu abu dan kelam

Bukannya aku menyerah kepadamu

Hanya saja perasaan begitu berharga untuk dipertaruhkan

dan engkau masih saja abu dan mengabu hingga hilang dalam kalbu

-richardapatis

 

Bayang-Bayang Kebebasan

Kita kini hidup dalam bayang

dan mati meninggalkan bayang

Perlahan kita hilang dalam sebuah keberadaan

dan kekosongan mulai mengisi kita secara perlahan

Perlahan diri kita mencari sebuah kebebasan

Yang hilang bukan karena direnggut melainkan karena pembiasaan

Untuk hidup dalam kebebasan atau mati demi kebebasan?

Masih jadi tanya

-richardapatis

Sedimen Tawa

Kita berdialog tanpa kata

Hanya tatapan dan sebuah diam

Kita berfoto tanpa raga

Hanya desiran perasaan dan sebuah senyap

Kita merata pada langit atas sana

Tak perlu saling meninggikan atau merendahkan

Karena kita tahu, kita sudah di jalan yang benar

Kita tersenyum saja tanpa ber-isyarat

Biar angin saling ber-interpretasi dan meninggalkan tanya

Kata mungkin terdiam, dan Senyum juga mungkin terbungkam

Namun kita tak lagi terkekang pada yang tanda tanya

-richardapatis

Sang Pujangga

Menurutku

Tak ada lagi pujangga yang paling romantis selain Sang Malam

Malam terkadang mengartikan rindu dengan caranya sendiri

Yang seluruh isi semesta ini pun tak dapat mengartikannya

Malam terkadang bersenandung penuh pilu dengan caranya sendiri

Sehingga seluruh alat musik yang ada tak dapat mengartikannya

Mungkin dengan bulan dan bintang, Sang Malam berbagi rasa

Aku iri pada malam, ia begitu lembut namun tegas terhadap perasaan

Ia begitu kusyuk, bahkan petir pun enggan mengganggu

Puisi pun tak harus berkata-kata di malam hari

Pesonanya menggetarkan seluruh jagad dan mengetuk pintu hati ribuan makhluk

Aku ingin seperti Malam

Begitu jujur dan berani!

Sedang aku hanya manusia senja

-richardapatis

 

Hidup Yang Ganjil

Hidup ini memang ganjil

Ada yang mati, Ada juga yang lahir

Ada yang berperang dan ada juga yang memperjuangkan kedamaian

Ada yang gila berpoligami dan ada yang bermonogami juga

Selalu ada-ada saja di hidup yang ganjil ini

Dengan-mu aku mau menggenapkan seluruh hidupku

Aku mulai berserah dan men-tolerir

Bahwa hidup terkadang memang suka bercanda pada umatnya

Dengan-mu aku tak pernah semelankolis ini

Aku juga tak pernah sesayang ini

Jika hidup memang ganjil

Denganmu lah kan ku cari seluruh jawaban duniawi ini.

 

(y)=x

Menyayangimu biar jadi dosaku sendiri

Tak perlu kau pikir ini-itu yang terkadang hanya klise

Semua berbeda dan memang penuh tanya

Hidup bukanlah tentang persamaan bukan?

Apalagi mereka yang tak mengerti dan hanya jadi hakim

Ada perlunya kita berdiam diri melawan kenistaan

Hidup adalah tentang esok, bukan yang dahulu

dan Cinta adalah tentang keberanian

Sudikah kau mengerti?

Mau-kah engkau berani bersamaku?

-richardapatis

 

 

 

 

 

 

Waktu adalah Sudah

Hidup adalah perilah keberanian bukan?

dan Mati adalah perihal penerimaan bukan?

Kala waktu tak mampu menempatkan kita pada dimensi lagi

Siapkah kita menerima yang sudah-sudah

Masing-masing dari kita menoleh ke belakang

Tersenyum pada masa lalu untuk yang sudah-sudah

dan Berterima kasih pada luka-luka yang sudah-sudah pula

Kala kita terbawa alunan waktu yang penuh kejutan

Saat rintik hujan dan bau tanah usai hujan yang khas

masing-masing dari kita kan mengingat lagi

Kita adalah apa yang sebenarnya kita lalui

bukan apa yang sudah kita miliki

-richardapatis