Izinkan Berbicara Masa Depan

Wahai waktu yang kekal

Izinkan hamba berbicara mengenai detik dan sebuah kata

Mungkin memang tak sopan, berbicara layaknya seorang Tuhan

.

Namun, Tentunya Tuhan akan memaklumi umatnya yang ber-umur sebiji jagung untuk sebentar saja sombong dan sok tahu ini.

Kelak tua nanti, aku kan bahagia ketika kita meneguk teh hangat di halaman depan rumah kita, sembari melihat retorika langit dalam memanjakan mata kita

Menyemir rambutmu yang mulai memutih 1 per 1, sembari mengingat hari-hari yang kita singgahi bersama

.

Kan ku bangun 1 rumah kecil, di sebuah pedesaan, sebatas menghabiskan umur yang sudah mulai kadaluwarsa

Tertawa melihat anak anjing yang belajar berjalan, seakan kita tidak pernah se-polos bayi

Melawan ketidak-tahuan, bersamamu aku belajar untuk paham

Bahwa hidup membiasakan kita untuk berubah dan mengalah

belajar tuk mengalah pada tirani

Namun, apa daya, menghabiskan waktu bersamamu menurutku adalah sebuah pembuktian bahwa hidup memiliki bahagianya masing-masing.

richardapatis.

AuRevoir kebenaran.

 

 

 

Advertisements

Yes, We Were Lost in Our Hometown

Note: Terinspirasi dari pembicaraan dengan Sigit “TigaPagi” di Jalan Asia Afrika bersama kawan (Abi, Marco, Ryoji). Suasana malam, topik pembicaraan, canda, dan tawa, tanpa basi-basi langsung saja ku-endapkan dalam tulisan agar lupa tak lekas kunjung.–

 

(Arah-arah kini sudah kehilangan jalan

Suasana yang biasanya ku-rindukan

Ternyata sudah mudah dimanipulasi

Apalah arti rindu

Kala Jarak sekarang sudah mudah dibagi

Kala Mimpi sekarang sudah mudah diproyeksikan

Aku Pulang

Mungkin bukan pada saat yang tepat

Bermodalkan kertas tiket

Arah menolak dikonsentrasikan

Mengikuti alunan kereta

kini tiba di kampung halaman

Bukan seperti yang dulu

Entah dimana aku berpulang

Rindu ini juga tak mudah dibius

Ke-pulanganku mungkin sudah punah pada era globalisasi.)

RichardApatisjl asia afrika

 

 

 

 

 

 

 

Dongeng Masing-masing

 

Bila bukan dengan jarak ku berbagi rindu

Untuk apa laut menampung air tangis

Nyatanya, mencintaimu adalah sakit yang tak ter-elakkan

begitu dalam menusuk nadi

.

Bila bukan dengan kata ku berbagi kisah

Dongeng kita hanya akan kusang dilahap oleh waktu

Nyatanya, berbagi kisah denganmu adalah bab terfavoritku

menulismu erat-erat pada kertas tua agar kekal dalam jeratannya

.

Sakit dan Tawa

Penuh perspektif

Seperti aku dan kamu

Menulis kisah yang berbeda berbeda

Dan menyatukannya ketika kita ber-umur 27 tahun nanti

.

richardapatis

 

.

 

9/12/****

 

Ranting Pohon, tempat mimpi hinggap

Dalam tidur yang lelap

Di ruangan yang pengap

Kita terdiam penuh gagap

Tubuh kita tak berwujud

Lalu kepada siapa kita bersujud

Kepada mata yang terlelap kah?

Tempat kita meredupkan hiruk-pikuk duniawi

Tepat pukul 3 pagi

Terbangun dari yang sudah-sudah

Melupakanmu lekas-lekas

Terkadang dalam mimpi, ku-habiskan rindu yang dulu-dulu

Karena esok tak akan sempat mengisahkan kita.

.

richardapatis