Tawa adalah kebutuhan tersier

Bukankah aku sudah cukup berani untuk  meletakkan harapku di kota rantau, terbawa dalam alurnya selalu mengartikan tiap terjalnya hidup menjadi sebuah makna yang kuharap akan menjadi pola. Bukankah aku sudah rasional, untuk tak selalu menuntut pada semesta tuk memudahkan hidup, berharap aku dibentuk bukan karena aku “punya” melainkan aku “dapat”. Belum lagi dengan jarak yang memisahkan, bukan kepada geografis, namun jarak waktu untuk meraih kenangan-kenangan yang selalu ku-doakan dapat kembali terulang lagi. Waktu dulu, aku tidur dengan pagi yang pasti sudah dijanjikan akan lunaknya hidup, sekarang ini hanya masalah judi nasib dalam poker kehidupan. Aku selalu menuntut pada semesta untuk selalu meyakinkan bahwa esok lebih baik. Memang siapa “esok” itu, yang selalu ku-doakan untuk menjadi lebih baik, namun apa? Tertawa pun sudah menjadi barang tersier dalam hidupku, aku tertawa karena otot-otot wajah, namun bukan dari sanubari hati. Seiring detik yang berubah menjadi tahun, harap sudah jadi bubur. Se-lelah apa aku menyusun potongan-potongan tuk kembali tuh, yang sudah pecah tetaplah tak akan menjadi sesolid dahulu. Tolong arahkan doa-doaku yang tersesat dalam perjalanannya, agar dapat kembali pada-Nya. Sudah lama aku tak mempertemukan telapak tangan kiriku dan kananku untuk sekedar berterimakasih, hidup ini membuatku sombong, berharap seorang diri dapat menaklukkan buasnya ombak kehidupan. Mungkin benar, kenihilan adalah sebuah awal kehidupan, dari kehancuran kita akan tahu dan belajar berharganya sebuah hidup. Bukan begitu?

.

POHON PINUS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s