Tawa adalah kebutuhan tersier

Bukankah aku sudah cukup berani untuk ¬†meletakkan harapku di kota rantau, terbawa dalam alurnya selalu mengartikan tiap terjalnya hidup menjadi sebuah makna yang kuharap akan menjadi pola. Bukankah aku sudah rasional, untuk tak selalu menuntut pada semesta tuk memudahkan hidup, berharap aku dibentuk bukan karena aku “punya” melainkan aku “dapat”. Belum lagi dengan jarak yang memisahkan, bukan kepada geografis, namun jarak waktu untuk meraih kenangan-kenangan yang selalu ku-doakan dapat kembali terulang lagi. Waktu dulu, aku tidur dengan pagi yang pasti sudah dijanjikan akan lunaknya hidup, sekarang ini hanya masalah judi nasib dalam poker kehidupan. Aku selalu menuntut pada semesta untuk selalu meyakinkan bahwa esok lebih baik. Memang siapa “esok” itu, yang selalu ku-doakan untuk menjadi lebih baik, namun apa? Tertawa pun sudah menjadi barang tersier dalam hidupku, aku tertawa karena otot-otot wajah, namun bukan dari sanubari hati. Seiring detik yang berubah menjadi tahun, harap sudah jadi bubur. Se-lelah apa aku menyusun potongan-potongan tuk kembali tuh, yang sudah pecah tetaplah tak akan menjadi sesolid dahulu. Tolong arahkan doa-doaku yang tersesat dalam perjalanannya, agar dapat kembali pada-Nya. Sudah lama aku tak mempertemukan telapak tangan kiriku dan kananku untuk sekedar berterimakasih, hidup ini membuatku sombong, berharap seorang diri dapat menaklukkan buasnya ombak kehidupan. Mungkin benar, kenihilan adalah sebuah awal kehidupan, dari kehancuran kita akan tahu dan belajar berharganya sebuah hidup. Bukan begitu?

.

POHON PINUS

Advertisements

Ciumbuleuit

Tanah ini adalah tempat, tempat bagi mereka yang menempa kata-kata menjadi topi toga

Embun ini adalah tempat, tempat bagi mereka yang menitipkan rindunya ke pelosok tanah air

Jalan terjal ini adalah tempat, tempat bagi mereka yang menafsirkan pola menjadi makna kehidupan

Pohon-pohon pinus ini adalah tempat, tempat bagi mereka untuk berlindung dalam mimpi yang sudah pudar dalam kadar

.

Tanah-tanah miring yang menggiring harap tuk segera asa

Menghilang dalam kelabu malam yang tak berujung

Udara-udara dingin yang membekukan setiap kenangan-kenangan tuk segera punah

Tergradasi antara embun-embun yang menunggu ajal

Daun-daun yang berguguran tanpa sebab sama halnya yang memisahkan kita tanpa alasan

Terpisah jengkal demi jengkal yang kemudian hilang dalam pelabuhan asmara

.

Tempat ini adalah sarang bagi doa-doa yang terlantar

Tempat ini adalah sarang bagi harap yang tak pernah dianggap

Aku menghargai daerah ini hinggal pelosok-pelosok hegarmanah

Kutitipkan segala sajak-sajak ini

Mengendap dalam batu-batu,pohon-pohon,daun-daun gugur

Biar sedih ini menjadi awal bagi matahari yang terbit

Dan Bahagia ini kutitipkan pada langit-langit malam, agar kekal dalam pelukannya

.

richardapatis

.

richardapatis

Wanderlust

Kepada yang tersesat dalam sebuah pencarian

Lalu-lalang kesedihan tak akan mengurai bijaksanamu

Jejak langkahmu tak akan terhapus angin bahkan waktu

.

Kepada yang mencintai dengan tulus

Bukan dengan kata aku merangkai sajak

Bukan dengan nada aku bersenandung rindu

Nyatanya bukan dengan kebetulan aku mencintaimu

Apalagi situasi berikut kondisi

Itu hanya fana, tak berteguh pada yang ilahi

Ada yang lebih murni

Lebih suci dari sekedar perasaan berikut fisik

.

Mencintaimu tak cukup dengan kata,nada, atau keabadian

Menyayangimu tak cukup dengan sapa,tegur,caci maki atau kecup
Seperti ini

Ada kala untuk tertawa

Menetertawakan setiap kemunafikan

Ada kala untuk bersedih

Menyesali setiap tawa yang palsu

Ada kala untuk meneruskan hidup

Menghabiskan waktu bersamamu

Tiada henti atau lelah

.

richardapatis

Rindu tak bertuan

Terlalu dalam tenggelam dalam kata, berkata pun aku tak mampu

Terlalu tinggi bermain dalam nada, bersiul pun kaku rasanya bibir ini

Terlalu lampau ku bercurah pada sebuah sajak, berprosa pun tak kian juga rindu ini bertuan

dari sabang hingga merauke

tersebar setiap benih rindu

mencari tuan, berharap tuk dipelihara

Tak juga rindu ini pernah bertuan

Kata pun tak bisa melukiskan sebuah rindu lagi

Nada C hingga C# tak dapat bersimfoni lagi tentang rindu

Hanya kepada pasir,hujan, dan laut kuberharap rindu ini akan bertuan

richardapatis