Kini

Dulu senyum adalah sambutan paling hangat

teruntai dalam setiap garis yang kemudian melengkung

Ah, entah madu apa yang membentukmu

Manis yang menyehatkan

.

Dulu tangis adalah tanda berhenti yang paling sedu

Terbentuk dari air yang tercampur dalam perasaan

Ah, jamu apa yang terkandung dalam tangismu

Pahit sekali, layaknya ampas kopi yang membalut seluruh lidahku

.

Kini, melihatmu adalah sebuah sambutan

Yang tak akan tersampaikan walau dengan cahaya

Kini, mendengarmu adalah sebuah doa

Yang hanya bernaung di atas telapak tangan

.

Manis ini tak akan terulang

Begitu juga dengan pahitnya

Tapi malaikat apa kau?

Bahkan pahit bersamamu adalah candu yang paling menyiksa hati!

/

richardapatis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s