Kini

Dulu senyum adalah sambutan paling hangat

teruntai dalam setiap garis yang kemudian melengkung

Ah, entah madu apa yang membentukmu

Manis yang menyehatkan

.

Dulu tangis adalah tanda berhenti yang paling sedu

Terbentuk dari air yang tercampur dalam perasaan

Ah, jamu apa yang terkandung dalam tangismu

Pahit sekali, layaknya ampas kopi yang membalut seluruh lidahku

.

Kini, melihatmu adalah sebuah sambutan

Yang tak akan tersampaikan walau dengan cahaya

Kini, mendengarmu adalah sebuah doa

Yang hanya bernaung di atas telapak tangan

.

Manis ini tak akan terulang

Begitu juga dengan pahitnya

Tapi malaikat apa kau?

Bahkan pahit bersamamu adalah candu yang paling menyiksa hati!

/

richardapatis

Advertisements

Terkata

Terbilang cinta adalah sebuah tanya dan titik

Yang membaur menjadi sebuah entitas

Terbilang rindu adalah sebuah waktu dan perasaan

Yang membelah seperti amoeba

Kembali lagi kepada sebuah paradoks

Yang kian berputar pada sebuah kepastian 

Seperti tanya dan titik, yang hanya menuntut tanpa adanya keseimbangan

Terkata, kita adalah untaian sebuah sepi 

Menjadi nada tanpa fals

Yang kemudian bersenandung dalam cressendo

Seperti itulah kita akan memanggil

Tanpa suara, hanya rasa

Yang kian menguat tanpa harus berkorban

Sesederhana itu

Seperti dosa yang merindu pada sebuah ketamakan.
richardapatis

Kewajiban sebuah Perasaan

Kita masih saja tertawa dalam senyap malam

Membising dalam setiap keadaan yang     meniadakan

Dunia ini begitu rancu

Tak jelas dalam setiap perputarannya

Lalu, Kita masih saja seperti ini

Bercanda di fenomena kehidupan

.

Engkau adalah sebuah bilangan 

Yang selalu terbagi dalam setiap pertemuan

Seperti inilah aku

Mencoba untuk memecahkan setiap problema

.

Bagiku dirimu adalah sebuah kesepakatan

Yang tak akan memudar tanpa sebuah kata

Kekal tanpa adanya materai

Karena seperti itulah

Kewajiban setiap manusia yang berperasaan

.

richardapatis 

Berbicara Mengenai Waktu

Karena dirimu, waktu adalah sebuah kepastian yang tak kunjung hadir

Tercipta dari detik dan pasir yang kemudian bersatu dalam perasaan

Tak ada yang lebih romantis dari sebuah kata tunggu

.

Sebab itu, waktu selalu sama seperti kemarin yang sudah-sudah

Masih saja menunggu yang kemudian ber-elegi dalam dimensi

Berbaur dalam rasa sabar dan pasrah

.

Bila memang kehadiranmu tak pasti

Akankah waktu berjalan sesuai biasanya?

Romantis dalam setiap pergerakannya

dan Pedih dalam setiap ingatannya?

.

Tolong isi waktuku dengan sebuah harap

bukan dengan bualan

Tolong jalani waktuku dengan sebuah liku

bukan dengan kaku

.

Waktu adalah guru yang paling sabar

Sebuah ajaran kokoh dalam setiap dasar

Karena waktu-lah sebuah perasaan akan terbiasa dengan sedih

Waktu adalah musuh alami dari keji dan sedu yang menggumpal dalam realitaku

.

.

Richardapatis