Senyumku tak semahal Tangismu

Memang bukan hak-ku untuk sekedar tahu

Apalagi untuk bertindak

Memang bukan waktu yang memutuskan

Apalagi kuasa orang seperti aku

Tapi, jikalau terbesit pikiranmu untuk sekedar peduli padaku

Ini hanya keinginan sederhana, tak akan mempengaruhi masa depanmu, apa lagi masa depan bocah hina seperti aku ini

Dengarkan saja ungkapan lirih seorang bocah yang hina ini

Aku tak peduli tangan mana yang akan kau gunakan untuk menamparku,¬†asal kau tahu akan kau kemanakan jalan hidupmu…

Aku tak peduli setajam apa pisau yang akan kau tancapkan pada jantungku, asal kau tahu akulah yang telah mengasah pisau itu

Aku tak peduli sudah berapa banyak senyum palsu yang kau lempar padaku, asal kau tahu senyum-ku tak akan semahal tangismu

Aku bahkan tak akan menjerit kesakitan dalam mahkota duri penuh ratap duka, ketika jari manismu mulai memakai mahkotanya

Bila kelak sepi menyampaikan pesan ini padamu

Di kala gundah atau duka

Ingatlah, bahkan hidupku tak semahal tidurmu yang pulas sayang!!

Advertisements

Serdadu-serdadu Nada

Nada-nada yang biasa kita senandungkan di tengah taman

Petikan-petikan gitar yang berdenting seiring matahari yang kian tenggelam

Dentuman-dentuman kecil tanganmu

Siul-siul merdu dari mulutmu

Sudah berapa banyak matahari tenggelam sejak cengkrama terakhir kita?

Rindukah engkau bersenandung denganku di taman itu?

Nada-nada yang kita tuangkan, seakan bunga-bunga taman itu hidup dari nada kita.

Namun sekarang, taman itu sunyi, hanya siul-siulan burung yang kudengar, dentuman itu hanyalah suara kaki anak-anak yang sedang bermain, siul-siul itu sudah tiada, berikut dirimu

Sekali lagi sebelum matahari tak akan terbit lagi, sudikah engkau menjadi Serdadu Nada bersamaku?

richardapatis