Tak satu-pun tahu

Kembali lagi bersama kopi dan buku-buku yang sudah menjamur
Lampu 4 watt ini menemaniku menelusuri 1 demi 1 halaman-halaman
Tatkala itu meraung pula segala curiga di dalam benak

Meja hijau boleh saja adil, seadil kasih ibu kepada anak-anaknya
Cinta ini boleh saja haru, seharu panas timah peluru yang ditembakkan Romeo ke kepalanya
Namun tahukah engkau, koruptor dengan leluasa masih memeras cucuran air mata rakyat-rakyat di bawah jembatan itu
Namun tahukah engkau, seorang ayah menggadaikan anaknya untuk judi yang terkata buah hati adalah tanda saksi suci cinta?

Lalu kepada Jenderal, kau beli jeruji-jeruji besi itu
Kepada harta kau bungkam telinga, mata , dan mulutmu
Kepada wanita-wanita tak berdaya kau longgarkan celanamu dan turunkan resletingmu
Dan Kepada alkohol kau bungkam realitasmu

Ketika rambutmu sudah tak hitam lagi, mulailah engkau menghujat segala yang jahat
Ketika engkau sudah mandi dalam emas, mulailah kau tuntut keadilan yang selama ini kau kurung
Ketika impoten menyerangmu, kau perjuangkan segala emansipasi wanita
Dan ketika organ dalam-mu merusak, mulailah kau tutup kedai-kedai tengah malam itu

Mulailah kau takut pada maut
Mulailah kau takut kepada waktu
Mulailah kau berbicara mengenai surga dan neraka
Mulailah kau kirim berton-ton sumbangan untuk masyarakat miskin
Lalu seiring ajal yang mendekat, kau yakinkan dirimu sendiri, bahwa engkau se-suci nabi

richardapatis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s