Tapi Kapan?

Dalam gelap aku masih berdiri
Namun, Tak ada satu kunang pun yang datang menghampiri-ku untuk menerangi
Maka diriku menulis dalam gelap

Aku tak berharap tanganmu untuk merangkulku seperti dulu
Namun aku kedinginan di sini
Tak ingatkah kau, sudah berapa banyak dingin malam yang kita bunuh?

Aku pun selalu berjalan setapak demi setapak
karena cerita kita mungkin sudah usai
Namun aku kesepian di sini
Tak ingatkah kau, sudah berapa banyak sepi yang kita bunuh?

Aku pun selalu mendengarkan lagu-lagu dari radio tua itu, sendiri.
karena engkau mungkin takkan pernah berbisik lagi di telingaku
Namun aku bosan di sini
Tak ingatkah kau, sudah berapa banyak nada yang kau senandungkan di telingaku

Diriku pun mulai menangis lagi dalam kegelapan

richardapatis

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s