Tak satu-pun tahu

Kembali lagi bersama kopi dan buku-buku yang sudah menjamur
Lampu 4 watt ini menemaniku menelusuri 1 demi 1 halaman-halaman
Tatkala itu meraung pula segala curiga di dalam benak

Meja hijau boleh saja adil, seadil kasih ibu kepada anak-anaknya
Cinta ini boleh saja haru, seharu panas timah peluru yang ditembakkan Romeo ke kepalanya
Namun tahukah engkau, koruptor dengan leluasa masih memeras cucuran air mata rakyat-rakyat di bawah jembatan itu
Namun tahukah engkau, seorang ayah menggadaikan anaknya untuk judi yang terkata buah hati adalah tanda saksi suci cinta?

Lalu kepada Jenderal, kau beli jeruji-jeruji besi itu
Kepada harta kau bungkam telinga, mata , dan mulutmu
Kepada wanita-wanita tak berdaya kau longgarkan celanamu dan turunkan resletingmu
Dan Kepada alkohol kau bungkam realitasmu

Ketika rambutmu sudah tak hitam lagi, mulailah engkau menghujat segala yang jahat
Ketika engkau sudah mandi dalam emas, mulailah kau tuntut keadilan yang selama ini kau kurung
Ketika impoten menyerangmu, kau perjuangkan segala emansipasi wanita
Dan ketika organ dalam-mu merusak, mulailah kau tutup kedai-kedai tengah malam itu

Mulailah kau takut pada maut
Mulailah kau takut kepada waktu
Mulailah kau berbicara mengenai surga dan neraka
Mulailah kau kirim berton-ton sumbangan untuk masyarakat miskin
Lalu seiring ajal yang mendekat, kau yakinkan dirimu sendiri, bahwa engkau se-suci nabi

richardapatis

Advertisements

Aku,kamu dan rasa

Meja-meja itu sudah tertata rapi tepat di halaman depan
Tak lupa juga kusiapkan vas bunga di tengah meja itu
Engkau pun datang menggunakan vespa orange milikmu

Segera kusiapkan kursi agar kau duduk dengan nyaman
lalu duduklah engkau beserta semerbak bau parfum vanilla favoritmu

Kata-kata kita bersenandung mesra dengan angin sore itu
Tawa kita bergejolak seirama dengan kepakan sayap burung-burung yang hendak pulang ke sarangnya

Pembicaraan kita berlalu-lalang seperti bus kota yang mengitari kota
Tak terasa jam sudah berdentang 6 kali
Matahari-pun mulai bersembunyi dari takhtanya

Aku pun sadar kita tak bisa selalu bercerita
Sudah saatnya kepastian diungkapkan
Pedih benar!

Sudah kita akhiri saja kasih kita
Aku, kamu, dan rasa tak akan bisa bersatu
Engkau-pun terdiam,waktu pun tiba-tiba berhenti

Tanpa pamit atau kecup
Tanpa kata atau senyum
Engkau pulang, begitu juga dengan bau parfum-mu yang tersapu bau senja

Jadi begini, hanya aku dan senja
Menatap langit yang kian membiru
Aku sendiri lagi dan tenggelam dalam senyap malam

richardapatis

Tapi Kapan?

Dalam gelap aku masih berdiri
Namun, Tak ada satu kunang pun yang datang menghampiri-ku untuk menerangi
Maka diriku menulis dalam gelap

Aku tak berharap tanganmu untuk merangkulku seperti dulu
Namun aku kedinginan di sini
Tak ingatkah kau, sudah berapa banyak dingin malam yang kita bunuh?

Aku pun selalu berjalan setapak demi setapak
karena cerita kita mungkin sudah usai
Namun aku kesepian di sini
Tak ingatkah kau, sudah berapa banyak sepi yang kita bunuh?

Aku pun selalu mendengarkan lagu-lagu dari radio tua itu, sendiri.
karena engkau mungkin takkan pernah berbisik lagi di telingaku
Namun aku bosan di sini
Tak ingatkah kau, sudah berapa banyak nada yang kau senandungkan di telingaku

Diriku pun mulai menangis lagi dalam kegelapan

richardapatis

Tahu Apa?

Tahu apa kalian tentang cinta?
Hingga harus menangis berteteskan darah//

Tahu apa kalian tentang cinta?
Hingga harus berkorban rasa dan asa//

Tahu apa kalian tentang rindu?
Hingga harus menatap foto yang sama hingga berdebu!

Tahu apa kalian tentang rindu?
Layaknya sunyi ini hanya untukmu!

Kalian berbicara tentang rasa dan asa
Layaknya cinta hanyalah sebuah drama

Menangis seperti yang sudah dinaskahkan
Bersyair seperti yang sudah didiktekan

Hina, yang bercinta layaknya dunia ini hanya untuk kalian
Cinta tak se-egois itu!

Tertawa dan Bersedih hingga mimik wajah kalian lelah
Lalu kau sebut itu cinta?

Tahu apa?

richardapatis

Untuk Anda Yang Ku Anggap Sahabat

Ketika perasaan harus dihadapkan dengan etika?
Apakah keadilan harus turut Hadir?

Ketika Cinta tak mungkin disampaikan
Akankah kebenaran harus turut Hadir?

Engkau yang bercinta di bawah bayang
Di bawah tembok-tembok etika

Engkau yang menyayangi tanpa batas
Tak menuntut atau berharap akan dibalas

Senyum
Tawa
Sudah cukup menafkahi perasaanmu

Terimakasih telah membuktikan akan arti Ikhlas.
Terimakasih telah membuktikan akan arti Kasih.
Terimakasih!

richardapatis

Telah Hilang

Ia yang berdiri dalam gelap
Tak diingat, Tak disebutkan
Bertahan demi kekal
Bernafas demi bebas

Ketika nama tak disebutkan lagi
Akankah Ia Mati?

Ketika perasaan tak bisa merasakan lagi
Akankah Ia Mati?

Ketika otak sudah tak mengingat lagi
Akankah Ia Mati?

Ketika nada tak disenandungkan lagi
Akankah Ia Mati?

Ket..
Ik..
A.

Semoga yang salah selalu didahulukan
Biar kebenaran yang berdiri sendirian
Dunia ini telah mati berikut akal dan budinya

Apa bedanya benar dan salah?
Ketika paradigma sudah diatur!

richardapatis