Enggan Kembali

Suara desis mendesis antara roda yang bergesekan dengan besi

Suara Masinis yang menggelora sampai ke ujung-ujung sudut di dalam stasiun

Suara tas yang diseret-seret tanpa ada kepastian

Suara-suara itu sudah menjadi lagu penyambut kepulanganku ke kota rantau

Sedih yang kubendung terbawa di setiap pemberhentian

Berharap aku bisa menetap lebih lama

Bukannya aku tak siap, tak senang, ataupun gelisah

Namun memang sudah tidak ada apa-apa lagi disana

harapanku, semangatku dan cintaku telah kandas di sana

Mati terkubur bersama seluruh laraku

richardapatis

Advertisements

Kepada Siapa?

Jika bukan kepada engkau,  lalu kepada siapa lagi?

Jika bukan karena engkau, mengapa aku sampai begini?

Rindu yang sangat ini, mulai memenuhi setiap rongga dada-ku

Namun,

kepada siapakah rindu ini tertuju?

Apakah hanya sepasang sejoli saja yang boleh merasakan rindu?

Apakah seorang pengembara kesepian seperti saya boleh merasakan rindu?

Mencicip manis dan pahitnya sebuah rindu

Kemudian mati perlahan dikoyak oleh sepi?

richardapatis

Sebentar Saja

Sayangku kemari

Jangan pergi dulu

Ruangan ini sedikit demi sedikit memudar tanpa dirimu

Sabar lah sebentar  saja, biar kudekap dirimu lebih erat

Sabar lah sebentar saja, biar kita habiskan teh yang masih hangat ini, berbicara mengenai rasa dan asa di antara kita

janganlah sedih, walau awan hitam sudah membendung tangisnya

Mendung ini tak selalu meng-kisahkan tentang duka, sayang

Begitu juga dengan matahari yang  selalu mengisahkan tentang suka

richardapatis

Rumah

Semua orang tentu memiliki rumah, tempat mereka hidup dan tumbuh

Namun apakah itu rumah? sebuah bangunan yang dibangun di atas sebuah lahan?

Apakah kalian akan menjawab alamat rumah kalian ketika ada yang bertanya ” Di mana rumahmu?”

Pertanyaan klise yang sering diajukan ketika berkenalan

Bagiku rumah bukanlah sebuah letak maupun tanah ataupun bangunan megah

Rumah ADALAH sebuah moment

Kalian boleh memiliki lantai berlapis berlian dan kasur sehalus sutra

Namun apakah itu bisa disebut sebuah rumah?

Lalu apakah tentara yang berperang di gurun sana,  tidur dan hidup di atas sebuah pasir

Begitu juga dengan para gelandangan di luar sana, yang tidur dan hidup di atas tumpukan kardus bekas

Apalagi mereka para pengembara, mereka tidur di tempat yang silih berganti tanpa tujuan yang pasti

Bagiku rumah itu tidak ada secara keberadaannya, rumah adalah kita, di mana kita berada di situlah rumah